The Toraja Testimonial Tour 2 (Matano Sorowako)

sebagaimana saya sampaikan di posting tentang The Toraja Testimonial Tour sebelumnya, perjalanan tersebut belum berakhir. Puas dengan Toraja, belum afdhol rasanya jika tidak mengunjungi sebuah tempat dimana kami belum pernah kesana dan hanya mendengar dari cerita teman-teman πŸ˜› Tempat tersebut adalah Danau Matano di desa Sorowako kecamatan Nuha kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan.
Danau Matano ini termasuk ke dalam danau paling dalam di Indonesia dan paling bersih, jika kita berdiri di tepian danau saat cahaya matahari bersinar terang, maka dasar danau beserta ikan-ikan penghuni danaupun akan terlihat jelas.. menarik bukan? πŸ˜›

Rute yang kami tempuh dari Toraja adalah Toraja – Palopo – Masamba – Malili – Soroako, jika non stop perjalanan maka akan dibutuhkan 8 jam perjalanan πŸ˜€ start dari Rantepao ibu kota Toraja Utara sekitar jam 4 sore menuju Palopo, sepanjang jalan disuguhi pemandangan yang luar biasa, entah itu lereng, maupun persawahan yang memanjakan indera penglihatan.

tebing berhias air terjun di jalan poros Toraja – Palopo

nampang bareng kecuali tukang foto 😦

Namun setelah dimanjakan panorama lereng pegunungan, semakin sore jalanan semakin adrenalin naik, dan jantung berdegup tak menentu. Bayangkan kabut tebal menutup seluruh badan jalan, serasa berkendara di negeri atas awan. Jarak pandang gak sampai 5 meter, kami hanya mengandalkan garis batas jalan yang catnya mulai memudar, sesekali berpapasan dengan kendaraan lain pun terkaget-kaget bahkan kami harus berhenti karena hampir bersenggolan mesra dengan sebuah truk. Alhamdulillah semakin malam, kabut pun menipis dan akhirnya menghilang, disebabkan kami menuju Palopo yang notabene di dataran rendah.. lega rasanya merasakan senam jantung sehat πŸ™‚

sesampainya di Palopo hari sudah larut dan kami memutuskan untuk bermalam di Palopo sembari menikmati suasana petang hari di Palopo yang meriah. Rasa capai akibat muter-muter di Toraja berikut perjalananya tak bisa dipungkiri, alhasil malam di Palopo kami cepat-cepat bertandang ke pulau kapuk. Kopi yang disruput di warung kopi sebelumnya pun laksana tak mampu mengganjal mata ini untuk sekedar menikmati malam πŸ™‚

Pagi yang cerah di Palopo, sarapan ala kadarnya di hotel kelas melati sudah mampu membangkitkan semangat kami tuk segera berangkat menuju Sorowako ditambah kami dapat kabar bahwa kami diundang untuk bersilaturahim ke om Dedy Darun (omnya mbak Melly istri mas Deny) di Masamba yang dah menetap dan dapat istri di rantau πŸ™‚ ah alangkah indahnya jalan-jalan dapet bonus pahala silaturahim insya ALLOH πŸ™‚
tiba di rumah om Dedy, kami disambut dengan hangat, ternyata om Dedy dah punya 5 orang anak plus 1 yang masih di kandungan, ah alangkah keluarga yang bahagia plus sangat menghargai tamu, kami disuguhi masakan Kapurung (makanan dari sagu plus kuah segar n sambal) lengkap dengan lauk pauk dan es buah, kami yang dah kelaparanpun bagaikan ikan dapet cacing, langsung kami sambar dan sikat habis πŸ˜€

makan bareng nan nikmat tak terkira

nampang bareng keluarga besar

perut kenyang hati senang rasa kantukpun datang, tapi kami harus melanjutkan perjalanan ke danau Matano yang masih sekitar 3 jam lagi hihihi πŸ™‚
setelah melewati jembatan layang yang di bawahnya adalah lokasi pertambangan nikel yang dikelola PT. Vale (dulunya dikelola PT INCO) kamipun memasuki kota Sorowako, seuah kota tambang yang tertata rapi laiknya kota di film-film luar, lingkungan bersih, teratur, full fasilitas. Pemukiman di Sorowako mayoritas adalah mess pekerja tambang, dan danau Matano terletak di tepi mess pegawai tambang. Kurang lebih jam 15.30 WITA kami tiba di danau Matano, kami langsung menuju Pantai Ide yaitu sebuah tepi danau yang persis di komplek pegawai pertambangan makanya disebut pantai πŸ™‚
Danau Matano bisa sedemikian bersih dan terawat karena memang danau Matano pemeliharaannya menjadi tanggung jawab PT. Vale dalam hal ini program Corporate Social Responsibility (CSR) nya. Jadi memang tidak mengherankan apabila kita gak akan menemukan sebatang eceng gondok ataupun sedimentasi di danau ini. Di danau Matano juga merupakan tempat konservasi berbagai macam jenis udang air tawar (namun saat kami kesana tidak sempat melihat konservasinya secara langsung).

Di danau Matano terdapat alat transportasi air yang disebut RAP (mungkin berasal dari kata raft) yang menghubungkan kota Sorowako dengan daerah lain bahkan ke propinsi lain (Morowali Sulawesi Tengah-red). Melihat bentuk RAP yang unik yaitu semacam dua perahu digabung dengan papan lebar sehingga di papan lebar tersebut bisa diparkir 2 unit mobil minibus, kami jadi tertarik untuk menaikinya.
setelah bernegosiasi dengan petugas di pelabuhan, akhirnya kami mendapatkan kesempatan untuk naik RAP mengunjungi desa Pustu Matano dimana mata air danau Matano berasal.
Hari sudah mulai gelap saat pemilik kapal dan putranya yang masih kecil mempersilahkan kami naik ke RAPnya. Sungguh saat yang tepat menaiki RAP di kala senja karena kami bisa melihat matahari terbenam yang memancarkan cahaya nirwana di ufuk barat.

RAP atau RAFT (rakit) khas di danau Matano mengangkut mobil)

anak sang pemilik kapal yang super

bang Nirman bergaya berlatarkan senja di atas RAP

Kalau tadi kami bilang saat yang tepat naik RAP, lain halnya setelah sang bagaskara terbenam, digantikan sang rembulan yang melambai-lambai kepada air danau dengan gravitasinya, ditemani sang angin yang berhembus kencang membawa serta hawa dingin sangat-sangat memunculkan aroma ketakutan di wajah kami. Bagaimana tidak takut?? kami beresiko tenggelam di sebuah danau terdalam di Republik ini sodara! πŸ˜€
Ombak memukul lambung RAP yang kami tumpangi sampai air pun kadang menerpa wajah manis kami πŸ™‚ angin berhasil menghempas dan merobek atap RAP sampai kami hanya beratapkan langit malam penuh bintang.. malam yang sangat romantis bukan? πŸ™‚

Alhamdulillah puji syukur kembali kami haturkan setelah kemarin dihadang kabut, hari ini kami diperdaya ombak dan angin Matano namun ALLOH masih memberikan keselamatan kepada kami. Sampailah kami ke desa Pustu Matano (bukan Pushtun yang banyak cewek cakepnya lho hihihi) kecamatan Nuha. Perut sudah sangat lapar, kamipun bertanya ke pemilik kapal “apa ada warung makan di desa Pustu Matano ini?” dan jawaban yang didapat adalah: “wah gak ada mas, yang ada di Sorowako tadi. Yang ada cuma warung kelontong kecil”
Alamaaaak seakan hampir pingsan namun secercah harapan muncul dengan jawaban selanjutnya dari pemilik kapal: “tapi coba saya tanyakan di warung kelontong tadi mau memasakkan sekedar Indomie+telor tidak”.
Dan puji syukur alhamdulillah kembali, pemilik warung bersedia memasakkan indomie+telor plus nasi dan teh manis hangat.. maka nikmat Alloh mana lagi yang kamu dustakan?
Sembari menunggu masakan matang, kami menuju mata air danau Matano terletak, sebuah kolam besar jernih penuh dengan gelembung udara dan disebut mata air “Bora-Bora” sayang minimnya cahaya membuat kami tidak bisa mengabadikan mata air tersebut. Penduduk sekitar percaya jika kita mengucapkan Bora-bora maka gelembung air akan bermunculan sampai permukaan air.
Ya namanya mitos, kami sebenarnya juga gak percaya, namun untuk sekedar membuat lega sang pemilik kapal sekaligus guide kami ya nurut aja mengucapkan bora-bora dan muncullah gelembung-gelembung itu (yang sebenarnya memang gelembung dari mata air yang mendorong pasir dan udara dari dasar kolam) hehehe.

balai desa Pustu Matano

kenyang menyantap nasi lauk indomie+telor ditutup dengan teh manis hangat, kamipun bergegas untuk segera balik ke Sorowako, di samping sudah larut malam, kami juga lupa belum booking penginapan dimana kami akan bermalam. Perjalanan RAP kembali ke Sorowako alhamdulillah lancar tidak seperti saat berangkat tadi, kami juga bisa terlelap di atas RAP beratapkan langit tersebut. (penyeberangan sekitar 1 jam).
Sampai di Sorowako sekitar jam 10 malam, kami langsung muter-muter nyari penginapan, beberapa penginapan sudah tutup dan lainnya penuh, disaat harapan itu hampir musnah, ada sebuah penginapan yang buka namun berkali-kali memanggil resepsionisnya tidak keluar atau sekedar menjawab panggilan kami, saya memberanikan diri nyelonong ke dalam ruang losmen, ternyata seorang cewek sedang asyik menelpon pacarnya terlihat kaget melihat kedatangan saya..hihihi. Cewek tersebut adalah pemilik, resepsionis, juru masak, sekaligus cleaning service losmen “Wisma Toraja” tersebut.. mantab bukan?? πŸ˜€ Losmen ini sebenarnya sehari-harinya tutup jam 10 malam, tapi karena saat si cewek mau menutup losmen sang pacar menelepon, urunglah menutup gerbang berikut pintu utama losmen. Dan alhamdulillah losmen tersebut kosong, hanya ada 5 kamar di losmen tersebut dan kami sewa semua.. hikmah buat ceweknya karena sang pacar menelepon, sekaligus hikmah bagi kami akhirnya dapat penginapan πŸ™‚

Danau Matano terkenal akan keindahan di kala matahari terbit.. Matano Sunrise tersohor ke antero penjuru, bahkan ada sebuah hotel di tepian danau Matano yang dilabeli Matano Sunrise πŸ˜€
Tak mau ketinggalan momen, habis subuh sekira jam 4.45 kami dah bergegas menuju pantai Ide untuk menikmati sinar hangat mentari perdana. Namun hingga pukul 6 sang surya urung menampakkan kilau indahnya, gumpalan awan mendung menggagalkan momen yang kami tunggu-tunggu. Tidak mau berlarut dalam kekecewaan, kamipun segera terjun ke danau dengan air walau udara dingin namun ternyata air malah terasa hangat di tubuh.
di pantai Ide terdapat semacam dermaga yang menjorok ke danau berikut gasebo serta papan untuk loncat terjun ke danau. Kami semua serasa balik ke masa kecil dimana mandi di kolam/sungai/waduk jadi makanan sehari-hari, gak terhitung berapa kali kami loncat salto nyebur ke danau.
karena air danau yang jernih dan tawar maka kami tahan berlama-lama menyelam dengan mata terbuka pun tidak akan memedihkan mata kami, jernihnya air pun memanjakan kami untuk melihat sampai dasar danau beserta ikan-ikan kecil yang menari-nari mencari makan di pagi hari.

pagi hari di dermaga pantai Ide

loncat dan terceburrrr

terbaaaang

berpose bersama saat hari mulai terang

tak terasa jam sudah menunjukkan lewat pukul 9, berarti 3 jam lebih kami berenang, meloncat, tertawa, tercebur bersama di danau Matano, ah sungguh momen yang susah dilupakan, semua capek selama 4 hari perjalanan pun seakan sirna.
Secangkir kopi panas sudah dipesan di tepian danau untuk menghangatkan kembali badan kami yang tak terasa sudah mengkerut kedinginan πŸ˜€
Karena hari dah mulai panas, kami bergegas ke hotel untuk sarapan, dimana nasi goreng telah disiapkan sama mbak super power pemilik, resepsionis, tukang bersih-bersih, sekaligus tukang masak losmen πŸ˜€
sarapan kelar kami berkemas dan bergegas untuk perjalanan pulang ke Bone yang akan memakan waktu 9 jam perjalanan πŸ˜€
Sepanjang perjalanan keluar Sorowako kami dihibur dengan pemandangan tebing dan sungai yang biru kehijauan plus hutan yang sangat terjaga kerimbunan pepohonannya.

tebing menjulang di tepian aspal

sungai biru kehijauan di tepian hutan nan rimbun

Alangkah cantiknya Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia kita.. selalu kagum akan keindahan negeri ini, begitu sempurnanya Alloh menciptakan bumi pertiwi kita, membuat rasa penasaran untuk selalu berpetualang keliling negeri πŸ™‚

4 hari yang spesial, 4 hari yang bermakna, 4 hari yang kan selalu dikenang..
“Jika nanti kita telah hidup masing-masing, ingatlah hari ini… ”
Semoga persahabatan ini kan selalu terjaga, bukan hanya terjaga untuk selalu bahagia, namun terjaga untuk selalu mendorong jika terasa lambat, mengerem dikala terlalu lepas, memeluk dikala rapuh, mengangkat dikala terpuruk, dan mengenggam dikala kita merasa sendiri..
“dan jika di suatu pagi, salah satu dari kita mati, sampai jumpa di kehidupan yang lain”

Salam hangat,
@maswanz

Advertisements

2 thoughts on “The Toraja Testimonial Tour 2 (Matano Sorowako)

  1. kok gaya berceritanya aku ngerasa ada perbedaan ya mas dr yg pertama,,, yg skrg tetep enak dibaca cm aku lebih menyukai gaya bercerita yg kemarin yg testimoni 1 πŸ™‚ tapi di yg ke2 ini aku ngesir banget ama 1 foto yg judulnya loncat dan tercebur, assyyyiiikkk πŸ™‚

    • Bener mas… aq sendiri jg bingung soale banyak banget yg mau kuceritain, tp aku kesane keburu-buru jadi gak ngena ya tulisane? Yah buat pembelajaran tulisan mendatang.. thanks banget mas Ndaru dah mampir n masukannya yg membangun.. :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s