The Toraja Testimonial Tour 1

kangen rasanya nyampah di blog sederhana ini lagi, setelah sekian lama gak tau kemana hilangnya semangat ngetik..hehehe. tulisan pertama saya di 2014 ini akan diawali dengan sebuah perjalanan penuh makna yang kan selalu dikenang.. insya ALloh πŸ™‚ Bismillah..

“lebih mudah mencari sejuta musuh daripada seorang sahabat” kiranya itulah sebuah kalimat yang sangat mengena di setiap insan manusia. Apalagi bagi kami sebagai buruh pemerintah dimana kami dijauhkan dari keluarga kami, maka sebuah ikatan persahabatan sangat berarti bagi kami, bahkan bisa dibilang ini bukan hubungan persahabatan namun kekeluargaan. Sebagai perantau, berbagai macam kesulitan hidup tentu saja harus dipikul sendiri, namun dengan adanya teman/sahabat yang sudah menjadi sebuah keluarga, berbagai macam kesulitan tersebut dapat diatasi bersama dengan indahnya “berbagi”

Kaum perantau seperti kami yang memang telah menjadi jalan hidup, dimana merantau merupakan kontrak tertulis saat kami mulai memasuki dunia kerja dengan menandatangani sebuah kertas sakti yang nantinya akan menjadi penyumpal mulut kami untuk tidak protes akan semua hal mengenai penempatan kerja yang berada di seluruh wilayah Republik Indonesia, surat itu adalah “Surat pernyataan bersedia ditempatkan di seluruh wilayah negara kesatuan republik Indonesia” πŸ™‚ #akurapopo

Dikarenakan surat sakti tersebut, maka rotasi pegawai dari dan ke sebuah kantor merupakan hal yang jamak terjadi, datang dan pergi silih berganti. Jika ada pegawai baru yang datang, maka pastilah ada pegawai yang akan pergi berkelana menuju kantor lain tuk mencari kitab suci #ehsalah πŸ™‚

Sekira bulan Mei tahun 2013, sebuah SK (surat keputusan) pemindahan pegawai/mutasi keluar, 2 orang pegawai di kantor kami tercantum di surat tersebut. Singkat cerita, kami kaum perantau yang sudah seperti keluarga, ingin mengadakan acara jalan-jalan sebelum teman kami beranjak ke tempat membanting tulang memeras keringatnya yang baru #lebay
Disini perantau yang tidak membawa serta keluarganya, kami menyebutnya “Bulok alias bujang lokal” hehehe. jadi untuk urusan jalan-jalan, kami semua easy going (bukan berarti gampang diajak kemana-mana ma tante girang..hahaha).

Setelah berembuk bersama, jadilah Tana Toraja menjadi tujuan jalan-jalan kami kali ini, dikarenakan sebagian besar dari “bulok” lum pernah ke Toraja. Perjalanan kali ini kami namakan “The Toraja Testimonial Tour” dipersembahkan pada mas Deny Aristiono dan mas Arif Yanuar Tri Achmadi, walo akhirnya mas Arif urung ikut karena anak-anaknya masih kecil, sementara mas Deny memanggil istrinya dari Jakarta untuk ikut serta meramaikan perjalanan. Terkumpullah 12 orang ikut serta dalam tour kali ini.
Rute yang akan kami tempuh yaitu: Bone – Sengkang (Wajo) – Sidrap (Sidenreng Rappang) – Enrekang – Toraja dengan waktu tempuh 6 jam perjalanan normal.

Berangkat ba’da Dzuhur, ternyata kami harus mengubah rute perjalanan sebab 1 mobil yang akan digunakan mendadak batal diberikan ijin pakai, untuk mengambil mobil yang lain maka kami harus lewat rute Bone – Soppeng – Sidrap – Enrekang – Toraja. Tidak melalui Sengkang (Wajo) sesuai rencana awal.
Setibanya di Soppeng dan ambil mobil, kamipun melanjutkan perjalanan menuju Sidrap diselingi makan siang yang ala kadarnya dan tanpa rasa di sebuah warung pinggir jalan, sholat Ashar di Sidrap dan pas Adzan Magrib kami tiba di kabupaten Enrekang

bergaya dulu di gerbang kabupaten Enrekang

Kabupaten Enrekang kontur daerahnya berbukit-bukit dengan pemandangan yang sangat cantik, namun sayang saat kami tiba disana hari sudah gelap, rencana melihat gunung Nona lewat atas bukit sembari menikmati secangkir kopi pun gagal, karena hanya hangat kopi yang memanjakan tubuh kami, sementara mata kami belum bisa termanjakan dengan indahnya gunung Nona.
Perjalanan pun berlanjut, melewati perbukitan dengan jalan mulus berkelok sesekali bus besar jurusan Makassar-Toraja menjadi teman kami di perjalanan.
sekira jam 9an malam, tibalah kami di gerbang kabupaten Toraja.. dengan gerbang kota yang cantik, kamipun tidak melewatkannya untuk sekedar nampang πŸ™‚

nampang di gerbang kabupaten Tana Toraja

Kabupaten Tana Toraja beribukota di Makalle, dimana di Makalle inilah kami akan bermalam sebelum esoknya berjalan-jalan di Tana Toraja. Kami memilih Makalle untuk bermalam di samping merupakan ibukota kabupaten yang ramai, di Makalle inilah kami masih bisa dengan mudah mencari makanan Halal (maaf bukan maksud SARA). Di Makalle masih bisa ditemukan masjid besar, sementara nanti di Toraja Utara sangat susah menemukan masjid karena mayoritas penduduk di Toraja Utara adalah nasrani.
Pagi yang sejuk di Makalle, kami beranjak dari hotel dan mencari perbekalan untuk melanjutkan perjalanan. Tak lupa kami nampang-nampang dulu di pusat kota Makalle πŸ™‚

nampang di pusat Makalle bersama mbak Melly (istri mas Deny Aristiono)

Dari Makalle, kami menuju objek pertama, yaitu pemakaman LEMO di Lemo ini merupakan situs pemakaman tua. Makam terletak di tebing batu. Masyarakat suku Toraja memakamkan saudaranya yang meninggal di 3 tempat yaitu tebing batu, gua, dan pohon (pohon bagi bayi yang meninggal). Mereka tidak memakamkan di tanah dengan alasan tidak mau meracuni tanah leluhurnya.

LEMO

mas Deny bergaya ma istri di tongkonan LEMO

dengan latar belakang tebing makam LEMO

toko pernak-pernik di objek wisata LEMO

Puas di LEMO, kami berangkat menuju objek wisata berikutnya, yaitu mata air Tilanga di mata air Tilanga ini, airnya jernih dan sangat dilindungi kelestariannya, di sekitar kolam mata air tumbuh pohon-pohon besar dan rimbun yang setia melindungi kelanggengan mata air untuk selalu mengalir. Yang paling menarik dari objek wisata Tilanga ini adalah di dalam kolam hidup puluhan ikan sidat (orang Toraja menyebutnya MASAPI) yang bersembunyi di celah-celah batuan di dasar kolam, kita bisa memanggil Masapi ini keluar dengan bermodalkan telur bebek mentah dan menyuruh anak-anak penduduk lokal untuk memberi makan Masapi sehingga mau keluar dari celah-celah pohon. Ikan sidat atau Masapi ini tumbuh besar dan dilindungi tidak boleh ditangkap apalagi dikonsumsi karena dipercaya Masapi adalah penunggu mata air Tilanga.

Loket masuk objek wisata Tilanga

kolam mata air Tilanga tampak dari atas

Masapi keluar saat diberi makan telur bebek mentah

di Tilanga ini juga ada kegiatan yang membuat kami bersorak, yaitu kami disuguhi atraksi anak-anak penduduk sekitar terjun dari atas pohon yang menjulang di atas kolam menuju ke kolam mata air. KArena kami terhibur akan atraksi tersebut, maka kami tak segan memberikan tips ke anak-anak ini πŸ™‚

terjun bebas

setelah beberapa saat di Tilanga, kami bergegas menuju objek berikutnya yaitu Pemakaman Londa Di Londa ini merupakan Gua alam yang diperuntukkan kuburan bagi masyarakat Toraja. Ada yang membuat kami heran saat kami mau memasuki mulut goa, disitu banyak terdapat aneka macam barang yang bisa kami sebut sampah.. mulai dari botol minuman, kipas angin, buku, pernak-pernik, boneka, kaca mata, dan sebagainya. Saat saya tanya kenapa ini sampah tidak dibersihkan? seorang guide menjawab bahwa itu bukan sampah, melainkan barang-barang kesukaan dari yang sudah mati dan dikubur disitu, oleh karena itu tidak dibuang atau dipindahkan.

Masuk di dalam gua Londa, mata kita akan disuguhi ratusan tengkorak dan tulang manusia, pun juga puluhan peti jenasah yang beberapa diantaranya masih tergolong baru. Nuansa mistis menyelimuti kami, ditambah cahaya temaram dari obor yang dibawa guide kami.

berpose di dalam gua Londa

mas Deny di depan peti jenasah yang masih baru

Kerbau (tedong) di tangga masuk Londa

masuk gua di Londa membuat kami semua keringetan, di samping pengap ditambah karbon dioksida hasil pembakaran obor yang digunakan juga sukses membuat megap-megap πŸ™‚ plus lantai gua yang licin juga membuat kami terus waspada agar tidak terpeleset.
selesai di Londa, kami menuju objek terakhir yaitu Ketekesu. Karena mendengar ada acara Rambu Solo (acara pemakaman secara adat di Toraja) maka kami memacu kendaraan sekencang mungkin, tapi apalah daya, sesampainya di Ketekesu, acara sudah selesai dilaksanakan.

Ketekesu sangat terkenal dengan Tongkonannya yang tersusun rapi sejak jaman dahulu, atap dari ketekesu ini sudah ditumbuhi lumut yang sangat tebal. Maka dari itu, ketekesu sering dijadikan pusat acara Rambu Solo. Jika temen-temen melihat foto-foto Toraja, maka Ketekesu selalu terpampang dengan indahnya.
Di bukit belakang ketekesu, terdapat gua sebagai makam seperti halnya di Londa. Bahkan usia makam yang berada di tebing-tebing saat naik ke gua di Ketekesu sudah berumur ratusan tahun.. wow.

tangga menuju gua di Ketekesu, di tebing terlihat peti berusia ratusan tahun

peti yang berusia ratusan tahun

Peti yang jatuh dari tebing

Peti yang jatuh dari tebing dengan tulang yang berserakan ini memang sengaja belum dirapikan kembali karena harus menunggu kerabat/saudara dari yang dikubur untuk melakukan ritual adat pengambilan tulang kemudian dikubur kembali (tidak sembarangan)

bergaya di depan ketekesu

bertandang ke Ketekesu hari itu, menjadi hari terakhir kami di Tana Toraja, setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke danau Matano di Sorowako (akan diceritakan kemudian).
Perjalanan ini akan selalu dikenang, bukan sebagai dimbol perpisahan, namun sebagai tanda bahwa kita semua selamanya sahabat dan sodara seperantauan πŸ™‚

salam
@maswanz

Advertisements

4 thoughts on “The Toraja Testimonial Tour 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s